Menuju Pengelolaan Aset Berbasis Risiko
Diperlukan suatu perspektif pengelolaan aset yang mampu menjembatani baik aspek keandalan dan keselamatan yaitu merupakan pengelolaan aset berbasis risiko.
Habib Fajarsyah, S.T., M.Sc.

Selama ini, perspektif keandalan dalam pengelolaan aset berfokus untuk menjamin kemampuan aset dalam menjalankan fungsinya. Dengan memastikan aset-aset mampu menjalankan fungsi yang telah ditentukan, kinerja dari suatu perusahaan dapat dikelola. Di sisi lain, kejadian kebakaran pada aset milik Pertamina Balongan, menggugah suatu pemikiran bahwa aspek keandalan (reliability) erat kaitannya dengan aspek keselamatan (safety). Di titik inilah diperlukan suatu perspektif pengelolaan aset yang mampu menjembatani baik aspek keandalan dan keselamatan tersebut, yaitu melalui pengelolaan aset berbasis risiko.

Risiko (risk), secara harfiah, merupakan kemungkinan (probability) terjadinya suatu peristiwa beserta konsekuensi kejadian tersebut. Sehingga, didalam kajian risiko tersebut, ada dua hal yang dipertimbangkan, yaitu kemungkinan (probability) dan konsekuensi (consequence), yang didalamnya termasuk pula konsekuensi terhadap kehidupan social dan lingkungan. Beragam metode telah ditelurkan guna mengkuantifikasi risiko, namun esensi dari nilai probabilitas dan konsekuensi tersebut perlu ditanamkan dan diinternalisasikan dalam nafas organisasi. Ssemisal perusahaan menoleransi kemungkinan 1 dari 10.000 karyawan mengalami kecelakaan kerja dalam satu tahun, maka artinya angka 1 tersebut bisa siapa saja, termasuk pengambil keputusan, dan bisa kapan saja terjadi dalam tahun ini.

Kajian keandalan dalam pengelolaan aset senantiasa diawali dengan penentuan peringkat criticality seluruh aset perusahaan yang dilanjutkan dengan Analisis functional Failure Mode and Effect-nya (FMEA). Dalam tahap ini, perlu pula untuk dipetakan risiko dari effect kegagalan fungsi aset tersebut. Tahap ini diharapkan membuat asset owners dan asset managers sadar akan risiko yang perlu dikelola dan membangun risk-appetite dari decision makers-nya.

Asset managers akan dituntut untuk mengambil keputusan selama siklus hidup asetnya berdasarkan temuan kondisi di lapangan. Dengan kemampuan mengkuantifikasi risiko berdasarkan konsekuensi kegagalan aset beserta probabilitas kejadian berdasarkan monitoring kondisi aset tersebut, asset managers mampu untuk mengkuantifikasi risiko saat ini dan dengan bantuan mathematical modeling seperti implementasi Weibull Distribution memberikan kemampuan bagi asset managers guna melakukan forecast risiko di masa depan. Harapannya, asset managers mampu mengambil keputusan terkait tindakan pemeliharaan suatu aset apakah harus dilaksanakan saat ini atau bisa ditunda pelaksanaannya.

Sebagai penutup, tuntutan pengelolaan aset berbasis risiko ini akan semakin mendesak akibat era industri baru yang semakin terkoneksi dan terdigitalisasi. Era ini menuntut kinerja aset prima dan keselamatan kerja yang terjamin di seluruh industri tanpa henti dan tanpa cela yang tentu saja akan menuntut kemampuan melakukan strategi pemeliharaan aset yang berbeda dibanding era sebelumnya.  Perspektif pengelolaan risiko pun, harus bergeser dimana perspektif menghindari risiko at all cost atau perspektif bahwa risiko tersebut tidak mungkin terjadi pada suatu aset, menjadi tidak lagi relevan.

Embrace it, kuantifikasi dan milikilah risk-appetite. Guna menjawab tantangan tersebut, sudah saatnya risiko, termasuk risiko terhadap kinerja, lingkungan, dan sosial, menjadi basis dalam pengambilan keputusan pengelolaan aset.

More for You

Mendorong Kesinambungan Penerapan Cataloging
Analisis RAM
Outage Management

Subscribe to our newsletter